Saya hitam. Saya gay. Kulit putih Amerika perlu beralih, bukan saya.

Posted on

 

Pemain tenis karieronal Jeremy Sonkin: ‘Orang kulit hitam patut memperoleh kesetaraan. Kami di sini, sebagian dari kami aneh, kami keras, serta kami sebutkan sudah cukup. ​​’

Saya seorang pria kulit hitam, adopsi, gay, dibesarkan Yahudi. Saat saya berumur 17 tahun, saya lakukan profile rasial di kota asal saya Wheaton, Illinois.

Saya ditarik oleh seorang polisi serta kecemasan menyepelekan apakah yang saya alami. Saya disetop sebab polisi sedang cari seseorang yang kebetulan berkulit hitam, mengemudikan mobil perak serta yang disangka menggenggam seorang gadis di bahu serta menjelaskan jika dia akan menculiknya sebelum dia pergi.

Dua rekan saya ada bersama-sama saya, yang berkulit putih.

Petugas, yang berkulit putih, minta saya untuk keluar dari mobil. Sukurlah ayah saya, yang berkulit putih, tidak jauh serta datang secara cepat.

Pas di belakang mobil ayah saya ada satu van yang tiba terbang ke tempat parkir serta parkir disamping yang bersimpangan. Saya tidak pernah lupa lihat wanita kulit putih ini keluar dari van, membanting pintu, lari melewati lapangan parkir, masuk dalam muka saya, tujukan jarinya serta berteriak, “Itu ia! Itu orangnya! ”

Kalau saya sendirian di saat itu, saya serta tidak mau pikirkan apakah yang dapat berlangsung di kota putih saya yang benar-benar konvensional, religius. Pada akhirnya saksi menjelaskan pada polisi jika ia tidak percaya apa saya orangnya atau mungkin tidak, yang cuma melanggengkan stereotip jika saya masih bertanding ini hari menantang beberapa orang yang tidak paham: “Tidak, kita tidak seperti!” Saya sudah kehilangan jejak berapakah kali saya disebutkan “negro,” “tombak-chucker,” atau dikasih tahu untuk kembali pada “tanah air saya.”

Saya dahulu takut dicap untuk “orang kulit hitam yang geram.”

Tetapi saat ini saya cuma jengkel. Juta-an orang kulit hitam geram serta berikut penyebabnya. Apakah yang berlangsung pada George Floyd di Minneapolis sebab kebrutalan polisi ialah kekejaman. Bukti jika pembunuhan orang kulit hitam karena kekerasan polisi – 100 dalam dasawarsa paling akhir saja – 2x lipat dari orang kulit putih ialah kekejaman. Presiden memandang itu bisa diterima untuk memakai kemampuan terlalu berlebih pada demonstran damai adalah kekejaman.

Beberapa orang berkulit hitam sekarang ini dicap untuk “penjahat” saat kami berpadu untuk menjelaskan jika kami sudah usai hidup di negara yang cacat dengan cara skemaik.

Kita sudah usai dengan undang-undang yang membuat hampir mustahil buat beberapa orang yang terpinggirkan untuk mempunyai hak serta kekuatan untuk mempunyai peluang yang sama serta peluang yang sama untuk mendapatkan keberhasilan. Untuk memiliki hak serta dipandang cukup wajar untuk lakukan pekerjaan yang umumnya cuma akan diperhitungkan untuk orang kulit putih.

Pertempuran yang Anda melihat di monitor tv Anda kembali lagi 400 tahun saat budak pertama dibawa ke pantai kami.

Negara ini terus tidak berhasil masyarakat kulit hitamnya. Kami sudah berlutut, berbaris dengan damai, beberapa selebriti sudah memakai basis mereka untuk dengan cara bernilai membuat kesadaran, serta disini kita, masih menanti hak-hak yang, untuk masyarakat negara Amerika, kita memiliki hak memiliki.

Sudah cukup, kami telah melakukan dengan Anda, saat ini gantian kami untuk pada akhirnya lakukan beberapa hal dengan kami.

White America, saya ajukan pertanyaan-pertanyaan ini: Apa Anda sudah diprofilkan dengan cara rasial? Sudahkah Anda diminta kembali pada tempat asal Anda? Apa Anda tidak suka serta takut di pinggir? Berapakah kali hidup Anda terancam sebab kulit putih? Apa Anda tinggalkan rumah untuk ke satu tempat serta berasa perlu untuk terus-terusan lihat ke belakang serta berjaga-jaga? Itu hidupku. Itu kehidupan orang kulit hitam keseluruhannya.

Disamping itu, saya tumbuh hampir tiap hari dengan beberapa macam “homo” di sekolah atau di atas lapangan tenis. Saya mengatakan ini, sama menyakitkan serta kelirunya dengan mengaku, sebab saya telah terlatih terpinggirkan.

Serta sepanjang tahun, saya telah terlatih memikir serta yakin jika saya harus mengucapkan syukur, untuk orang kulit hitam yang aneh, untuk tiap kesempatan yang tiba pada saya. Jika siapa saya serta warna kulit saya cuma sangat mungkin saya untuk mengambil langkah selama ini, apabila saya membuat semakin jauh, saya harus mengucapkan terima kasih. Ditambah lagi, saya harus tersenyum serta memberi opini serta ketidaksetaraan apa saja yang datang dari orang kulit putih. Jika saya harus pasif serta tidak membuat keretakan. Jika saya harus “ambil jalan besar” atau “jadi orang yang semakin besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *